Our Partners

Gunakan GSunni Mesin Pecari Aswaja, agar tidak tersesat di situs2 wahabi.. klik sini..

PCINU Maroko

get this widget here

Resources

Catwidget2

?max-results="+numposts2+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts4\"><\/script>");

Catwidget1

Pages

Catwidget4

?max-results="+numposts2+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts4\"><\/script>");

Catwidget3

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Rabu, 14 Desember 2011

Tawaf di Bundaran



Seorang tuna netra baru saja turun bus dan akan menuju lokasi pengajian Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni). Kebetulan untuk menuju Tempat Kegiatan Pengajian (TKP) harus melewati sebuah bundaran.
Bundaran itu menuju empat tempat. Satu arah menuju ke pengajian dan tiga arah lain ke arah yang berbeda.
Tidak seperti biasanya, pagi itu ia marasakan ada hal yang ganjil. Karena selepas turun bus belum ada seorang pun menuntunnya dan menunjukkan jalan.
Akhirnya ia berjalan sendiri dengan kemantapan walaupun sampai di tempat pengajian telat untuk beberapa saat.

Guru ngaji yang sedari tadi sudah memulai pengajian lantas bertanya.
“Lho kang kok telat berangkatnya, biasanya datang kesini lebih awal?” ustadz bertanya akan keterlambatannya.
Dengan tanpa basi-basi ia langsung bersoloroh,”maaf Pak saya telat. Karena tadi saat di Bundaran tidak ada yang menunjukkan jalan menuju sini jadi ya saya  mengelilingi bundaran sampai empat kali putaran.
Makanya saya telat sampai sini.” Jawaban itu disambut gelak tawa guru dan sesama tuna netra. (Syaiful Mustaqim)

Membangkitkan Kembali Ruh Perjuangan Ulama

Sumber : www.nu.or.id
15/11/2011 11:37
Kirab Resolusi Jihad, Membangkitkan Kembali Ruh Perjuangan UlamaPertempuran 10 November di Surabaya, yang dikenal sebagai hari Pahlawan tak bisa dilepaskan dari adanya Resolusi Jihad, yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari, sehingga membuat para ulama menggerakkan santri dan pengikutnya untuk bersatu melawan penjajah. 

Sayangnya, peranan Resolusi Jihad tersebut kurang mendapat apresiasi, bahkan cenderung dilupakan oleh pemerintah dan publik. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengingatkan kembali makna Resolusi Jihad adalah dengan menggelar Kirab Resolusi Jihad dari Surabaya ke Jakarta pada 20-25 November 2011. Acara ini melibatkan Keluarga Besar NU, yang meliputi berbagai badan otonom NU, dan kelompok kultural NU. 

Apa latar belakang dan target yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan acara, yang baru pertama kali ini dilakukan, berikut wawancara Mukafi Niam dengan Imam Nahrawi, ketua pelaksana nasional Kirab Resolusi Jihad, seusai softlaunching, pada Kamis 10 November di gedung PBNU.

Latar belakang penyelenggaraan Kirab Resolusi Jihad

Beberapa waktu lalu Pak Muhaimin Iskandar ketemu dengan Habib Lutfi bin Yahya. Dalam kesempatan tersebut, Habib Lutfy menyampaikan keprihatinan semakin dilupakannya merah putih dan peran besar NU dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya beliau minta tolong lakukan semacam kirab, untuk mengembalikan semangat ke-NU-an, dari Surabaya ke Jakarta.

Kebetulan Surabaya adalah tempat terjadinya pertempuran 10 November yang menjadi hari Pahlawan. Surabaya tempat dibacakannya Resolusi Jihad dan diikrarkan sedemikian rupa oleh para ulama yang mendorong semangat pejuang untuk melawan penjajah.

Kedua, kita ingin ke-NU-an tidak hanya dimiliki oleh warga NU, tetapi juga oleh warga bangsa karena peran sejarah bangsa Indonesia tidak lepas dari dorongan dan dukungan dari semangat para kiai NU. Ini didirikan oleh NU. Ini harus dibuka, meskipun dalam mata pelajaran kita tidak pernah disebut Resolusi Jihad, tetapi harus dan wajib disebutkan peranan NU luar biasa besar, meskipun bangsa ini, pemerintah tidak pernah menuliskan itu dalam rangkaian sejarah, tetapi semangat warga NU tidak pernah pudar, tak pernah kecewa dan membangkang perintah yang sah.

Acara ini akan kita live dalam beberapa media secara nasional dan akan kita beritahu bahwa NU adalah penopang utama dari kokohnya NKRI.

Kok bentuknya kirab, kenapa?

Ibarat orang ingin taaruf, maka dia harus silaturrahmi, keliling, maka dengan motivasi ini, kita harap satu per satu warga bangsa yang dilalui, menjadi corong dan juru bicara, NU ada, tarekat ada, badan otonom bersama masyarakat. Ini yang harus kita gelorakan kembali.

Ini kan upaya pengenalan terhadap Resolusi Jihad terhadap warga bangsa, bagaimana langkah selanjutnya?

Tentu seluruh elemen harus segera mendorong agar Resolusi Jihad masuk dalam sejarah bangsa, masuk dalam teks buku kita, peringatan hari pahlawan harus dipusatkan di Surabaya, bukan di Kalibata Jakarta. Tentu kita harapkan apapun semangat Resolusi Jihad, tetap diatas kita adalah merah putih, kita tidak ingin mengatakan merah putih dibawah kita, tetapi merah putih yang harus kita junjung

Seremonial apa yang akan kita lakukan di berbagai lokasi yang dilalui?

Macam-macam, kita hargai potensi masyarakat, karena antara Gresik dan Pekalongan berbeda, dengan Kerawang berbeda, karena itu potensi lokal harus kita munculkan. Sambutlah dengan kreasi lokal yang ada, keanekareagaman dan kesenian, silahkan dimaknai disitu. Kita ingin memaknai, jihad itu bukan seperti yang terjadi kemarin (pengeboman.red), tetapi kebersamaan untuk mencintai perbedaan yang ada. Disitu Islam rahmatan lil alamiin

Contohnya apa?

Banyak, kalau di Gresik akan disambut hadrah Ishari, Paskibraka, atraksi Pagar Nusa, macam-macam lah. Ada reog juga, ada kesenian. Di Semarang kalau tak salah, ada istighotsah malamnya. Karena itu, di lima titik akan kita siarkan secara langsung. Termasuk di masing-masing persinggahan akan ada aksi sosial, santunan untuk fakir miskin, anak yatim, janda, termasuk janda pahlawan akan kita berikan sehingga ini bukan semata-mata kirab bendera, tetapi penyapaan dan berbagai pada masyarakat yang kita lalui.

Bagaimana dengan keterlibatan komponen PKB dalam hal ini?

Setiap aktifitas kan ada berkah, nanti berkahnya semoga bisa kita rasakan, tapi yang lebih penting, meneruskan harapan dari Habib Lutfy, harapan dari KH Said Aqil Siroj selaku ketua umum PBNU, yang mana, baru sejarah pertama, kirab ini dilaksanakan. Kita tidak memaknai kirab ini sebagai gerakan politik, tetapi itu wajar kalau ada orang yang iri, tetapi kita biarkan, yang penting ketulusan mengibarkan panji NU, badan otonom dan merah putih.

Kami juga meminta doa restu dan berharap seluruh warga NU untuk berbondong-bondong menghadiri acara ini ditempat kirab dilalui untuk mengenang sejarah kepahlawanan para ulama NU dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Selasa, 06 Desember 2011

Dongeng Sebelum Tidur

Kisah Inspirasi  
Keutamaan Membaca sholawat Sebelum Tidur
  Oleh: Muannif Ridwan* 
                                                                             
Dahulu ada seorang laki-laki dari Iraq sedang menunaikan ibadah haji bersama anaknya. Selama di tanah suci laki-laki itu selalu bersama anaknya dalam setiap langkahnya, sampai tidur pun mereka berdua berada dalam satu kamar. Beberapa hari kemudian setelah sampai di Makkah, orang laki-laki itu jatuh sakit dan hingga akhirnya meninggal dunia. Singkat cerita, anaknya itu kebingungan ketika melihat ayahnya telah pergi meninggalkannnya untuk selama-lamanya dan yang paling mengejutkan dan membingungkan dalam kejadian itu, tiba-tiba muka sang ayah itu berubah wujud persis seperti muka babi. Dalam kebingungannya, si anak itu keluar dari penginapannya untuk mencari bantuan kepada masyarakat.
         
          Maklumlah saat itu tengah malam, sehingga dia tidak mendapati seorang pun yang bisa dimintai pertolongan. Setelah kesana-kemari akhirnya anak itu bertemu dengan seorang laki-laki tua. Anak itu langsung menceritakan apa yang terjadi pada dirinya kepada laki-laki tua itu. Setelah mendengar ceritanya, laki-laki itu menasehatinya agar kembali kepenginapan untuk menunggu jenazah ayahnya hingga orang-orang telah bangun dipagi hari. Akhirnya anak itu menuruti nasehat si kakek itu. 

Setelah beberapa jam anak itu menunggu jenazah ayahnya, maka rasa ngantuk pun mengampirinya hingga akhirnya hampir ketiduran. Nah, disaat itu tiba-tiba datanglah seorang laki-laki bertubuh besar memakai jubah putih menghampirinya lalu menyapanya, “kenapa kamu kelihatan bersedih nak ?”. Si anak itu menjawab,”Ayahku telah meninggal”. Lalu laki-laki itu menasehatinya, “sudahlah jangan bersedih, semua makhluk hidup nanti akan mengalami hal yang sama seperti ini, begitu juga kmu”. “tapi meniggalnya ayahku ini sangat aneh pak, masak mukanya berubah seperti muka babi”, kata anak itu. Lalu laki-laki itu bilang, “apa benar yang kamu katakan itu, coba saya pengen lihat”. Kemudian anak itu menunjukkannya kepada laki-laki itu. Ternyata apa yang dikatakan anak itu benar.
          
              Kemudian laki-laki itu mengusap wajah jenazah itu, tanpa menghitung detik tiba-tiba muka yang sebelumnya persis seperti muka babi hutan itu berubah wujudnya seperti semula dan bahkan tampak bersinar seperti rembulan. Saking senangnya melihat hal itu, anak itu langsung menarik jubah laki-laki itu supaya tidak pergi dari sisinya dan bertanya, “siapa kamu sebenarnya?”. “Saya mustafa”, jawab laki-laki itu. Karena kurang puas dengan jawaban itu, si anak itu kembali bertanya,”bapak ini Mustafa orang mana?” “saya mustofa rasulullah, saya kemari diutus Allah untuk memberi syafaat kepada ayahmu ini”, tegas laki-laki itu.

Karena penasaran dengan apa yang telah terjadi pada ayahnya, si anak itu tidak tinggal diam. Dia kembali bertanya,” wahai rasulullah mengapa ayahku bisa seperti ini?”. “Begini nak, ayahmu itu sebenarnya telah mendapatkan hukuman dari Allah. Karena ayahmu itu kalau meminjamkan uang selalu minta bunganya. Maka, seharusnya mulai dari alam kubur hingga sampai akhirat muka ayahmu itu akan terus seperti muka babi. Tapi, perlu kamu ketahui nak, bahwa apa yang telah dilakukan ayahmu itu lantaran karena kebodohannya dan  ayahmu itu sebelum tidur selalu berwudlu dan membaca sholawat kepadaku sebanyak seratus kali. Maka ketika ayahmu meninggal langit itu bergoyang. Lalu Allah memanggilku untuk memberikan syafa’at buat ayahmu ini’’, jelas laki-laki itu. Sebelum pergi laki-laki itu berpesan, ‘‘makanya nak, kamu yang masih diberi kesempatan hidup di dunia ini, perbanyaklah membaca sholawat kepadaku’’.
 (semoga bisa menjadi motivasi bagi kita yang masih mempunyai kontrak hidup)


فضل الصلاة علي النبي المصطفى
كان رجل عراقي مسافرا إلى مكة لأداء فريضة الحج ومعه ابنه. وبعد أن قضى فيها أسبوعا كاملا أصابه مرض شديد حتى أتاه اليقين. وكان ذلك في منتصف الليل. وخلاصة القصة :أنه لما رأى ما حدث لأبيه من الوفاة حزن حزنا شديدا والذي جعله حزينا أكثر في هذه الحادثة تحول وجه أبيه حتى صار كوجه خنزير.

فخرج الولد من الفندق الذي كان يبيت فيه أبوه لطلب المساعدة من المجتمع المحلي ولكنه لم يجد أحدا منهم ليساعده. وبعد محاولته في البحث عدة مرات وجد أخيرا شيخا هرما, فأخبره بما حدث لأبيه. فنصحه الشيخ بأن يرجع إلى محله لكي يحرس جنازة أبيه حتى يصبح.

وبعد ساعة من الحراسة جاءه رجل كبير الجسم أبيض الثوب, فقال له: ما بك أيها الولد, لقد رأيتك حزينا؟ فقال الولد : إن أبي قد توفيّ . فهدّأ الرجل قلبه وقال : لا تحزن, إن جميع مخلوقات الله تعالى فى العالم لهم أجل مسمى فإذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون, كذلك أنت يا أيها الولد . وقال له الولد : يا سيّدي, ينبغي لك أن تعلم أن وفاة أبي ليست كوفاة الناس عادة وذلك أنه تغير وجهه حتى صار كوجه خنزير, فأمرالرجل أن ينظر إليه. ففتح الرجل كفن تلك الجنازة ووجده وجه خنزير. ثم مسحه بباطن كفه. فتغيّر ذلك الوجه فورًا وعاد كما كان من قبل وتلألأ تلألأ القمر ليلة البدر.

          ولما أراد الرجل أن ينصرف أمسك الولد بثوبه ثم سأله : من أنت يا سيّدي؟ قال الرجل : أنا مصطفى رسول الله. فتعجّب منه الولد تعجّبا وسأله مرة ثانية : يا رسول الله, لماذا تغيّر وجه أبي؟ فأجابه الرجل :اسمتع إليّ أيها الولد, والدك  قد حصل على هذا العقاب من الله. لأنه كان يأكل أموال الناس بالباطل عن طريق الربا. فكان ينبغي  أن يستمر هذا العقاب بعد وفاته  إلى يوم الوعيد. ولكنه فعل ذلك جهلا و كان لا يدع الوضوء ولا الصلاة عليّ مائة مرة قُبَيْلَ النوم مدة حياته. فتزلزلت السماء لما سمعت بوفاته. ثم بعثني الله إليه لأشفع له.
          وقبل أن ينصرف الرجل وصّاه فقال له : ((أيها الولد, عليك بكثرة الصلاة عليّ مادامت الروح في جسدك)).

                                 
                         Penulis adalah Mahasiswa S1 Universitas Imam Nafie, Maroko*

Bilik Cinta


*Oleh: Afif Husen
Bilik cinta  =  Kereotan berfikir


 Penjara merupakan pemukiman resmi para penjahat (dalam segala fersinya ) yang di nilai telah melanggar aturan2 yang telah di tetapkan oleh negara. Penjara juga di sisi lain merupakan bentuk usaha prevenif dan persuasive untuk menghasilkan efek jerah kepada narapidana untuk tidak mengulangi tindakan jahatnya. Sekaligus menjadi semacam  semacam malaikat izrail ( pencabut nyawa ) yang akan menciutkan mental masyarakat untuk berbuat kejahatan, karena begitu tidak mengenakkan dan mengerikanya berada dalam biu. Di tambah dogma dan pola pikir  masyarakat bahwa penjara adalah tempat hina, sehingga yang keluar darinya stempel hina akan terus melekat.  Dari sini,  sehingga kriminalitas bisa di redam volumenya jika fungsi dan makanisme penjara berjalan dengan baik dan benar.

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mencatat  jumlah tindak kriminalitas selama Agustus 2011 mencapai 1.758 kasus dari berbagai jenis kejahatan di wilayah hukum DKI Jakarta dan sekitarnya. Itu baru yang di Jakarta, itu baru yg bisa terungkap. Yang di kota2 lain dan  yang tidk terungkap ?. Tentu lebih banyak.  
Kriminalitas terus bertambah jumlahnya, terus beragam macamnya.

Indonesia  adalah Negara hukum,  yang terbanyak komunitas muslimnya  di tambah tanah air kita  mashur dengan  sopan santun dan ramah tamahnya.  Tapi kenapa kejahatan tumbuh subur di tanah yang subur ini. Apakah embel embel itu hanya bualan kosong, hanya dongeng pengiring tidur.

Kriminalitas tidak hanya terjadi di luar bui,  pelakunya pun tidak hanya mesyarakat sipil, karena sangat banyak juga kriminalitas dalam transaksinya berada dalam area penjara. Baik itu para napinya, sipir2 dan penjabat2 nya. Kasus artalita menjadi sampel kecil  dari anyirnya penjara kita. Yang berduit, yang berkuasa, penjara bisa serasa di hotel. Di sulap semau mereka, juga pengakuan2 dari mantan napi yang katanya, lalu lintas peredaran narkotika berjalan juga di sana, transaksi PSK,  gank2 dsb. Yang kerap menyelimuti atmosfer penjara2 kita.

Begitu memilukan, begitu bobroknya penjara2 kita. Tak berkualitas.
Karena tak usalah ada “bilik cinta”  meski terselip niatan baik juga dalam penerapanya. Tetapi itu tak sebanding dengan  resiko yang akan di hadapi kedepan. Wong belum ada bilik cinta aja PSK2 masih nyelonong2 masuk.

Sementara ada dua hal yang mendasari tidak perlunya  “ bilik cinta “
1.     Akan memudar dan hilangnya daya kesakralan  penjara sebgai jawaban dari kesadaran untuk tidak berbuat kejahatan atau efek jerah. Sehingga jika penjara di pandang ompong ( karena fasilitas2 yg ada membuat nyaman ).  Imbasnya  angka  kriminalitas akan melejit.
2.     Bilik cinta mungkin bisa di pertimbangkan, tapi jauh lebih di pertimbangkan, dan menjadi hal primer adalah kebobrokan penjara2 kita yang kudu segera di benahi termasuk kedisiplinan dan mkanismenya. Secepatnya, sebersih bersihnya. Karena sudah banyak tangan2 kotor  yang mengotak ngatik.  Jika terus di diamkan sama halnya dengan kita membiarkan kejahatan tetap berkeliaran. Membiarkan duri terus berada dalam sepatu kita.

Karena pejara  bukanlah rumah, tempat singgah melepas lelah, tempat berkumpul dengan sanak saudara. Penjara adalah imbalan bagi mereka  yang melakukan pidana. Tempat kotor,  bagi mereka yang melakukan tindakan tindakan kotor.
So,  bolehlah bilik cinta itu di beradakan, tapi tidak untuk sekarang. Karena masih banyak hal hal yang jauh lebih penting yang mesti di prioritaskan.  Seperti  halnya buat apa membeli es cream, jika perut kelaparan, bukankah lebih logis dan tepat membeli nasi yang lebih di butuhken.


Marocco 16 september 2010

*Penulis adalah mahasiswa yang sedang menempuh s1 nya di ma’had ali imam nafie.  Tanger marocco





PCINU MAROKO

PCINU MAROKO

Followers