Labels

Our Partners

Gunakan GSunni Mesin Pecari Aswaja, agar tidak tersesat di situs2 wahabi.. klik sini..

PCINU Maroko

get this widget here

Categories

Resources

Catwidget2

?max-results="+numposts2+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts4\"><\/script>");

Catwidget1

Pages

Catwidget4

?max-results="+numposts2+"&orderby=published&alt=json-in-script&callback=showrecentposts4\"><\/script>");

Catwidget3

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Category

Labels

Labels

Labels

Popular Posts

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 November 2012

Catatan Sepuluh November



Catatan Sepuluh November
Oleh: Ali Syahbana*

Sepuluh November bagi segenap rakyat Indonesia merupakan momen yang bersejarah. Sebab pada angka tersebut, tepatnya 10 November 1945, rakyat Indonesia ‘pontang-panting’ berjibaku mengorbankan keluarga dan nyawa demi mempertahankan  kemerdekaan Indonesia tercinta.

Adalah manuver dahsyat tentara Inggris, dengan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perangnya, yang mengharuskan mereka kembali bersinggungan dengan ‘kawan lama’ bernama perang. Dan Alhamdulillah-nya, berkah rahmat Tuhan YME, melalui tekad dan kesatuan serta ikhtiar rakyat Indonesia, tanpa terkecuali santri-santri dibawah komando kyai-kyai kaliber KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya dan juga tokoh muda kaliber Bung Tomo, Surabaya pun selamat dari jajahan Inggris laknatullah ‘alaihim. Kemudian pejuang yang gugur pada momen tersebut, apapun latar belakang dan status sosialnya, mendapat ‘label’ Pahlawan.

Setelah itu, dengan penetapan Hari Pahlawan pada angka sepuluh tersebut, lambat laun term pahlawan menjadi ‘penyakit’ tahunan yang seakan selalu menarik untuk digali maknanya, di ‘pas-pasi’ esensinya dengan konteks kekinian, dan lain sebagainya. Pertanyaannya, masih adakah pahlawan pasca generasi angkatan ‘Sepuluh November’ tersebut?

Kalau boleh ditarik benang merahnya, gelar pahlawan peristiwa 10 November lahir sebab rakyat ‘nekat’ mempertaruhkan nyawa, berani memperpendek nafas kehidupan, dan siap mati gasik, rela tulus ‘ngabdi’ tanpa pamrih demi satu tujuan mulia yaitu kesejahteraan bangsa Indonesia. Dari itu penulis pun setuju jika ada yang mengartikan pahlawan adalah seseorang yang berbakti kepada masyarakat, negara, bangsa dan atau umat manusia tanpa menyerah dalam mencapai cita-citanya yang mulia, sehingga rela berkorban demi tercapainya tujuan, dengan dilandasi oleh sikap tanpa pamrih pribadi. Bahkan jika definisi ini sudah menjadi ijma’ atau kesepakatan kolektif tentu sulit bagi kita untuk men-cap pahlawan terhadap siapapun.

Adapun pahlawan secara kamus bahasa kita ialah orang yang menonjol karna keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani. Maka orang yang berani membasmi virus korupsi secara kamus disebut pahlawan. Hakim yang tanpa pandang bulu membela kebenaran secara kamus juga disebut pahlawan. Pejabat yang gagah untuk tidak menindas rakyat lagi-lagi menurut kamus masuk kategori pahlawan.

Makna pahlawan jika boleh dipersempit lagi bisa berarti orang yang berjasa secara positif. Sehingga dari sini dipahami bahwa siapapun yang melakukan amaliah atau hal-hal positif masuk kategori pahlawan.  Kedua orang tua kita adalah pahlawan dengan jasa-jasa yang tak terkira. Kyai, ustadz atau guru juga pahlawan dengan ketulusan transfering anugrah ilmu yang diperolehnya. Yang ‘nyebrangi’ nenek-nenek, yang eksis menjaga kebersihan lingkungan, yang istiqamah menahan nafsu untuk ‘nguntit’ brangkas negara, dan sebagainya bisa dianggap pahlawan jika mengamalkan term makna sperti ini.

Namun, yang jauh lebih penting dan bahkan besar diharapkan dari semua teori tersebut adalah upaya tiap-tiap individu untuk mendongkrak jasa-jasa positif baik secara mikro maupun makro. Meneladani -sebagai manifestasi penghormatan dan penghargaan- amaliah hasanah pahlawan-pahlawan terdahulu. Dan bukan malah terkungkung dalam wacana kepahlawanan yang tak berujung. Wallahua’lam bisshawab.

Tetouan, 12 November 2012.

* ‘Santri’ di Universitas Ibn Tofail Kenitra, Maroko.

Sabtu, 15 September 2012

Sikap PCINU Maroko atas Film INNOCENCE OF MUSLIMS

Umat Islam di dunia kembali dihadapkan dengan perbuatan yang membuat mereka geram dan tidak bisa tinggal diam. Bagaimana tidak? dengan beredarnya  film yang tidak bermutu “innocence of muslims  yang digagas oleh Sam Bacile ini jelas telah menghina dan melecehkan pribadi pemimpin mereka, Muhammad SAW yang merupakan rahmat bagi semesta alam.

Film ini telah berhasil memancing emosi sebagian umat Islam di dunia, sehingga di sana-sini terjadi demontrasi yang diiringi dengan tindakan anarkhis, seperti yang terjadi di negara tetangga Libya.

Mustasyar PCINU Maroko, Prabowo Wiratmoko Jati dalam pertemuanya dengan  beberapa jajaran pengurus PCINU Maroko di kota Kinetra yang dihadiri oleh warga Nahdliyin di Maroko meminta agar tidak mudah terprovokasi oleh film murahan itu. Sebab hal itu akan menambah permasalahan baru. Apalagi dengan melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum.

Dalam menyikapi film ini PCINU Maroko menolak dengan tegas pelecehan terhadap Rasulullah SAW dan umat Islam di dunia. PCINU Maroko sangat mengutuk kejahatan ini dan menuntut supaya hukum diberlakukan kepada orang yang telah berani melecehkan kesucian sebuah agama. Jika tidak demikian maka tindakan tersebut akan menambah kebencian kaum muslimin kepada Barat pada umumnya dan Amerika pada khususnya. Karena telah berani melecehkan kesucian agama Islam.

PCINU Maroko juga menuntut agar pelakunya segera ditangkap dan diadili.
Pada saat yang sama PCINU Maroko juga menolak kekerasan dan pertumpahan darah yang timbul akibat pelecehan yang dilakukan beberapa orang terhadap Nabi Muhammad SAW. Biarlah hukum yang bertindak dan mengadili perbuatan keji itu.

Karena dengan melakukan tindakan anarkhissecara tidak sadartelah menyalahi ajaran-ajaran luhur Nabi Muhammad.

Namun jika umat Islam bisa mengambil hikmah di balik semua ini dan menghadapinya dengan baik. Dengan ini diharapkan agama lain akan simpati dan segan kepada Islam.

Terakhir, boleh kita marah atas nama Rasulullah asal dengan cara-cara Rasulullah. “Alghodob li Rasulillah bi akhlaq ar-Arrosulillah”.

*Lajnah Talif wan-Nasyr PCINU Maroko.

Kamis, 09 Agustus 2012

Sakralitas "Lailatul Qadar"


Oleh: Ali Syahbana Lc.
Saat bulan suci Ramadhan tiba, termasuk hal yang paling laris dijadikan bahan pembicaraan adalah tentang "Lailatul Qadar". Baik media cetak maupun elektronik, entah oleh para penceramah atau ustadz yang professional maupun amatiran, ditiap-tiap mushalla atau masjid, ataupun dalam kajian diskusi keagamaan melulu menempatkan Lailatul Qadar menjadi bahasan menarik untuk diketengahkan, untuk disampaikan dan yang labih penting untuk diamalkan tentunya.

Lailatul Qadar atau dalam kebahasaan kita berarti malam ketetapan adalah momen dimana Al Qaadir (Allah swt yang maha menetapkan) menetapkan perjalanan hidup manusia dalam jenjang satu tahun kedepan (baca: QS. Ad Dukhan ayat 3-5). Dikatakan juga bahwa siapa saja manusia yang melakukan amalan positif dalam malam tersebut maka pahala dan ganjarannya lebih baik daripada ia beramal 1.000 bulan, setara 83 tahun 4 bulan.

Lailatul Qadar kalau boleh dikata merupakan malam yang kramat dan sangat istimewa. Bahkan ada dari ulama yang melakukan teka teki dalam menentukan malam tersebut. Mereka berpendapat jika awal Ramadhan hari Ahad dan Rabu maka Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 ramadhan. Jika hari Senin maka malam 21 Ramadhan adalah Lailatul Qadar-nya. Jika hari Selasa atau Jum'at maka malam 27 Ramadhan. Jika hari Kamis maka malam 25 Ramadhan. Jika hari Sabtu maka Lailatul Qadar-nya malam 23 ramadhan.
Saking sakralnya sepertinya, ada juga yang mengatakan, "jika awal puasa hari Jum'at maka Lailatul Qadar jatuh dimalam 29 Ramadhan. Jika awal puasa hari Sabtu maka malam 21 Ramadhan. Jika hari Ahad maka malam 27 Ramadhan. Jika hari Senin maka malam 19 Ramadhan. Jika hari Selasa maka malam 25 Ramadhan.. Jika hari Rabu maka malam 17 Ramadhan. 

Lailatul Qadar laksana misteri yang patut untuk dicari dan didapati. Ia tidak tetap atau berubah-ubah dalam tanggal jatuhnya. Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa terjadinya malam Lailatul Qadar itu pada 10 malam terakhir bulan Ramadan. Dikatakan juga bahwa ia terjadi pada malam-malam ganjil, yaitu 21,23,25,27, dan 29.

Imam Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (lihat: Fathul Bari, 4/262-266)

Lailatul Qadar merupakan malam yang dahsyat dan penuh keutamaan. Untuk mendapatinya, tidak cukup hanya sekedar berjudi melakukan ibadah total hanya pada malam ke 21 saja atau malam 27. Namun, setelah jiwa kita ajeg bermesraan denga Allah swt di 20 hari puasa pertama, sepuluh hari terakhir ini harus betul-betul dimanfaatkan secara efektif untuk melakukan ibadah baik personal maupun sosial. Jika Kanjeng Nabi saw sendiri selaku sosok teladan umatnya, sebagaimana riwayat mengatakan, saat memasuki sepuluh yang akhir bulan Ramadhan, mengencangkan ikat pinggangnya untuk menghidupkan malamnya dengan ibadah secara vertikal bersama keluarganya. Tentunya umat yang mengaku pengikut beliau labih berhk untuk –minimal- mencontoh teladan beliau dalam menghidupkan "'Asyra al awakhir" sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Selamat mencegat sakralitas dan keberkahan Lailatul Qadar. Wallahua'lam.

Kenitra, 9 Agustus 2012 / 20 Ramadhan 1433 H

Senin, 06 Agustus 2012

Puasa, Perspektif Agama dan Budaya

Puasa ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang agung dan memiliki pahala yang tiada tara. Banyak keutamaan dalam bulan ramadhan yang termaktub dalam Hadits-Hadits Nabi diantara keutamaannya ialah pahala yang berpuasa itu sangat besar , kalau kebaikan selain puasa ada balasannya dari 10 x lipat sampai 700x lipat sedangkan puasa Allah sendiri yang membalasnya, sebagaimana dalam hadits di jelaskan : "Setiap amal kebaikan manusia akan dibalas 10 kali lipat sampai 700 kali lipat, Allah berfirman: Kecuali puasa, sesungguhnya puasa untuk-Ku, ia meninggalkan syahwat, makan, dan minum karena Aku, Bagi orang yang berpuasa ada 2 kebahagiaan, bahagia ketika berbuka puasa dan ketika bertemu Tuhannya, dan bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi menurut Allah dari minyak misik" . 

Seluruh umat islam telah sepakat bahwa hukum puasa ramadhan adalah wajib atas muslim yang baligh, berakal, dan mampu. Berdasarkan hadits Rosulullah SAW  yang artinya : "Islam dibangun atas 5 dasar : syahadat "tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah rosulullah," mendirikan sholat, membayar zakat, puasa ramadhan dan haji kebaitullah." (Muttafaq 'Alaihi).  Allah SWT juga telah menegaskan di dalam  al qur’an yang artinya "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” ( Q.S. Al Baqoroh: 183).

Meski puasa ramadhan berada pada urutan yang ke empat setelah rukun ketiga yaitu zakat, namun ritual ini memiliki otoritas yang sama yaitu perintah untuk melaksankannya sebulan penuh. Dalam prakteknya  banyak Muslim yang tidak berkomitmen untuk melaksanakan sholat  yang telah di wajibkan setiap harinya lima kali, tapi ketika ramadhan datang mereka berusaha untuk tidak makan dan minum selama bulan ramadhan.

Mengapa sebagian Muslim seolah menulikan telinga ketika mendengarkan panggilan sholat lima waktu sementara mereka rela tidak makan dan minum di siang hari selama bulan ramadhan tanpa merasa bersalah sedikitpun bahwa ada ibadah lain yang harus di kerjakan?

Kelima rukun Islam yang telah di tetapkan oleh Allah SWT telah di atur sedemikan rupa serta di dalamnya terdapat maslahah dan hikmah tersendiri. Ketika seseorang mengimani semua yang telah di tetapkan oleh Allah SWT berarti ia telah berikrar dan meyaikini dengan hati, dibenarkan oleh lisannya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah serta mengaplikasikan dalam kehidupannya dengan melaksankan semua perintah-perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. 

Oleh karena itu, tampak aneh sekali jika melihat orang berpuasa ramadhan, namun enggan untuk melakukan sholat yang termasuk dalam lima rukun islam tersebut. Untuk kategori ini, orang tersebut di katagorikan sebagai orang munafik karena telah mendustakan agamanya sendiri.  Allah SWT berfirman yang artinya ”Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS.An-Nisaa’: 14).

Tetapi jika kita melihatnya dari perspektif lain, kita dapat menemukan pemahaman lain dari fenomena ini. Tidak seperti shalat, puasa selama bulan ramadhan bukan lagi di jadikan sebagai ritual keagamaan atau kewajiban seorang muslim melainkan upacara budaya belaka. Mengapa? karena orang yang tidak melaksanakan sholat atau bahkan tidak merespon ajaran-ajaran Islam lainnya masih merasa gembira dan bersemangat dengan kedatangan bulan suci ramadhan. Dimensi sosial dan budaya yang kuat ramadan dalam arti umum dari masyarakat membuatnya menjadi tugas secara paksa pada orang. Karena setiap usaha untuk bertentangan dengan ritual puasa selama bulan ramadhan hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan psikologis bagi sipelaku.

Alasan lain yang menunjukkan bahwa ramadhan memiliki dimensi budaya dalam masyarakat kita adalah ketika kita melihat beberapa orang yang terlibat dalam tindakan yang melanggar Syar’I dan tidak bermoral selama malam-malam ramadhan, tapi paginya ia tetap berpuasa. Lebih lucu lagi adalah berhentinya seorang pemabuk, pekerja seks komersial dan para koruptor sebelum awal sampai akhir ramadhan dalam rangka menghormati bulan suci ramadhan tapi setelah itu ia mengulangi perbuatan dosanya tersebut, tapi tanpa rasa malu dan bersalah ia mengatakan puasa di pagi harinya karena tidak makan dan minum sampai adzan maghrib tiba.

Semua praktek-praktek ini  tentunya  jauh dari tuntunan agama, tetapi, sayangnya masih ada orang-orang yang larut dalam tindakan asusila dan tidak bermoral tersebut. Mereka justru cenderung untuk melakukan ritual puasa selama bulan ramadhan bukan sebagai tindakan ketaatan kepada ajaran agama, tetapi hanya karena ramadhan memiliki dimensi lain yaitu sosial-budaya dimana ia memperoleh kewenangannya sebagai warga masyarakat.
Wallohu ‘alam bishowab.
*Oleh:  Kusnadi El Ghezwa, Maroko.
                  

Relasi Kemerdekaan dan Ramadhan

Beberapa rentetan sejarah islam mencatat bahwa di bulan ramadhan terjadi beberapa peristiwa di antaranya, penurunan al-quran, perang badar, pembebasan kota Makkah. Di Indonesia ramadhan mempunyai makna tersendiri pada tanggal 9 ramadhan 1367 H. sebagai peristiwa agung lahirnya negara kedaulatan republik Indonesia dengan kemerdekaan yang dianugerahkan dari Allah bukan dari bangsa kolonial, eropa atau tetangga melalui serentetan perjuangan dan pengorbanan rakyat Indonesia.

Tak luput pula di bulan ramadhan rangkaian kewajiban dan amalan-amalan baik lainnya dilakukan untuk mengharap kebaikan dari Sang Pengasih dan Menghidupkan, seperti puasa, baca al-quran, shalat tarawih dan lain-lain. Apabila dikaji maka dalam terma kehidupan sehari-hari puasa di siang hari menyebabkan kelemahan fisik yang mempengaruhi aktivitas sehari-hari seseorang dan amalan malam hari seakan-akan menyita waktu masing-masing individu untuk mendapatkan pahala sebanyak mungkin.

Manfaat puasa diantaranya mengekang dan mengendalikan diri dari nafsu dan keinginan yang dilarang oleh hukum Islam sehingga di siang hari orang yang terbiasa bisa makan pada siang hari akan mengerti susah dan duka kaum lemah yang bisa menimbulkan dan menciptakan rasa simpatik, solidaritas dan perhatian terhadap lingkungannya. Begitupula amalan malam hari dengan berjamaah dan aktifitas tadarrus di mushalla-mushalla dan masjid-masjid memberi kesan semangat kebersamaan dan persatuan membangun sebuah masyarakat yang rukun, harmonis dan dinamis.

Menurut kesehatan dan kedokteran, Dr. Mac Fadon, salah seorang dokter kelas dunia yang memiliki minat pengkajian terhadap puasa dan pengaruhnya mengatakan, “semua orang membutuhkan puasa meskipun ia tidak sakit. Karena racun-racun makanan dan obat-obatan sering terakumulasi di dalam tubuh, sehingga akan membuatnya jatuh sakit, dan membebaninya hingga memperlemah aktivitasnya. Jika orang melakukan puasa, maka dia akan terbebas dari resiko-resiko racun tersebut serta akan merasakan vitalitas dan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.”[1]

Karena itu bergerak dan beraktivitas selama berpuasa Islam merupakan tindakan positif dan penting yang meningkatkan kapabilitas kerja liver dan otot. Selain itu keduanya juga bisa membersihkan racun dalam tubuh dan melindunginya dari resiko pembludakan zat-zat kotor di dalam darah.

Meminjam Istilah Dr. Mahler dalam sebuah makalah yang ditulisnya mengenai obesitas, manusia zaman modern makan bukan karena lapar, akan tetapi ia makan untuk memenuhi nafsu makannya.[2] Fakta penelitian tersebut bisa dikorelasikan dengan semangat perjuangan yang di iringi ideologi rahmat dan keberkahan dalam bulan ramadhan mengobarkan api semangat persatuan untuk menggalang dan meraih kemerdekaan, mengisinya dan meneruskan cita-cita bangsa Indonesia.

Walaupun fakta sejarah juga menyatakan terjadi perdebatan sengit antara Kaum Muslim yang dipelopori para Santri dan Ulama dengan Para Nasionalis dengan pemahaman ilmunya yang tak hanya didapat dari negeri pertiwi saja dalam menyongsong kemerdekaan. Fakta itu bukan berarti sebuah perpecahan melainkan mencari solusi terbaik untuk masa depan negara dengan mencurahkan dan mengemukakan ideologi masing-masing untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Perbedaan ini yang menjadi cisri khas dinamika dan kehidupan plural rakyat Indonesia dengan berbagai adat kebudayaan dan bahasa yang berbeda-beda tetapi tetap satu kesatuan Negara Kedalutan Republik Indonesia mengambil ideologi agung Bhineka Tunggal Ika, berlandaskan Pancasila. Sekali merdeka tetap merdeka!!!

[1] Dr. Abdul Jawwad as-shawi,, Terapi Puasa; Manfaat Puasa Ditinjau Dari Perspektif Sains Modern, Terjemahan Aan Wahyudin, Republika, cet. I, 2006, M.Y. Sukkar, HA. El-Munshid and M.S.M Ardawi, Concise Human Physiology.

[2] Dr. Muhammad Ali al-Barr, As-Shawm wa Amradh as-Samnah, Dar as-Sa’udiyyah li an-Nasyr wa at-Tauzi’, cet/ I, 1984, hlm. 18

Minggu, 05 Agustus 2012

Al Qur'an, Kitab Suci Yang Terkhianati

*Oleh: Ali Syahbana.


Sebelum menyelami lebih jauh pokok permasalahan, pertama penulis maklum jika ada sebagian pembaca yang menganggap ekstrim judul diatas. Sebagaimana penulis juga legowo saat ada dari pembaca  yang tidak langsung ambil kesimpulan tentang judul tersebut, namun terlebih dulu melakukan penelitian dengan pembacaan menyeluruh. Sebab bagi penulis pembaca adalah manusia-manusia yang bebas untuk menilai dan berpendapat.

Jika kita bertanya tentang al Qur'an, mayoritas umat muslim, terlebih  yang pernah mengenyam pendidikan islam, akan menjawab bahwa "Al-Qur'an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw., penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas"

Al Qur'an adalah kitab yang istimewa. Bagaimana tidak, Al Qur'an diturunkan di bulan mulia nan istimewa, yaitu Ramadhan. Juga salah satu keistimewaan Al Quran adalah, sebagaimana riwayat Imam At Tirmidzi dari Ibnu Mas'ud, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al Quran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku (Rasulullah saw.) tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf".

Saking istimewanya, meminjam ungkapan Simbah Kyai Mustofa Bisri dalam salah satu tulisannya, Al Quran dibaca tanpa mengerti artinya pun mendatangkan pahala. Mereka yang membacanya dengan lancar dijanjikan akan bersama-sama para malaikat yang mulia dan mereka yang membacanya gratul-gratul, tidak lancar akan diganjar double. Demikian menurut hadis shahih riwayat imam Bukhari dan Muslim dari sayyidah A’isyah r.a.

Al Qur'an adalah kitab suci agama Islam yang berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, pedoman dalam menjalani kehidupan yang pemahamannya diambil dari apa yang telah disampaikan ulama-ulama terdahulu merujuk ajaran Kanjeng Nabi shallallhu'alaihi wasallama.

Dalam posisinya sebagai pedoman dan pentunjuk, dalam hal ibadah Al Qur'an banyak menjelaskan akan kewajiban seorang hamba untuk tunduk dan mengabdi kepada Tuhannya. Ketundukan ini tertuang dalam kewajiban sholat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci ramadhan dan beribadah pergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.

Dalam hal toto kromo, Al Qur'an juga mengisyaratkan bagaimana potret kemuliaan akhlak Rasulullah saw, kelembutan sikapnya dan keramahan perangainya yang sudah barang tentu harus dijadikan teladan bagi mereka yang mengaku umat dan pengikut beliau.

Lebih jauh lagi, Al Qur'an juga memaparkan bagaimana manusia berlaku baik terhadap kedua orang tuanya, kerabatnya dan orang-orang disekitarnya. Al Qur'an melarang penindasan, ketidak-adilan, keserakahan dan segala bentuk kezaliman. Al Qur'an tidak menghendaki kemunafikan, perberbuatan keji, pengingkaran akan janji-janji maupun tindak kekerasan yang menjadikan merugi.

Al Qur'an, lagi-lagi dengan  pemahaman yang sesuai tentunya, menjadi terhormat jika ia benar-benar mampu menjadi pedoman hidup kaum muslimin. Al Qur'an tidak hanya dibaca dan dihafal, tapi jauh lebih penting bagaimana ia bisa diamalkan. Dengan begitu cita-cita hudan linnas-nya Al Qur'an menjadi terealisasikan.

Namun menjadi ironis jika umat yang mengaku berpedoman terhadap Al Qur'an ternyata tindak tanduk-nya jauh dari nilai-nilai agung yang diajarkan Al Qur'an. Melupakan kewajiban sebagai hamba telah menjadi kebiasaannya. Menindas, berlaku tidak adil, serakah ataupun merampas hak-hak kaum lewah menjadi amalan yang melekat dalam dirinya. Bersikap kasar, rajin mencela dan mecaci-maki, memfitnah, berprasangka buruk, iri, dengki dan ingkar janji jadi santapan sehari-hari. Dan lain sebagainya, dan lain sebagainya.

Jika kenyataannya demikian, tidakkah kita lebih pantas disebut, dengan bahasa ekstrimnya, sebagai bagian dari umat yang telah mengkhianati nilai-nilai kitab suci Al Qur'an?? Terlebih jika tidak adanya usaha-usaha perbaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan mengamalkan rumusan-rumusan yang tertuang dalam ajaran Qur'an itu sendiri. Maka dari itu, melalui momen dan semangat "Nuzulul Qur'an" marilah kita berusaha untuk tidak sekedar membaca dan sibuk menghafalkan Al Qur'an, tapi juga mencoba istiqamah mengamalkan kandungan-kandungan mulia yang ada dalam Al Qur'an. Dengan begitu semoga Al Qur'an bisa menjadi syafaat dalam kesejahteraan kehidupan di dunia maupun akherat kelak.

"Allahummarhamna bil Qur'an, waj’alhu lana imaaman wa nuuran wa hudan wa rahmah. Allahumma dzakkirna minhu maa nasiina wa ’allimna minhu maa jahiilna, warzuqna tilaawatahu aana al laili wa athrofannahar, waj’alhu lana hujjatan Yaaa rabbal ‘alamiin", (Ya Allah, kasih sayangilah kami dengan sebab Al Quran, dan jadikanlah Al Quran sebagai pemimpin, sebagai cahaya, sebagai petunjuk dan sebagai rahmat bagi kami. Ya Allah ingatkanlah kami dari apa-apa yang kami lupa dalam Al Quran yang telah Kau jelaskan dan ajarilah kami terhadap apa-apa yang kami belum ketahui dalam Al Qur'an, dan karuniakanlah kami untuk selalu sempat membaca AlQuran pada malam dan siang hari, dan jadikanlah Al Quran sebagai hujjah bagi kami Wahai Dzat yang menguasai alam semesta). Wallahua'lam bis shawab.


* Santri di Universitas Ibn Tofail Kenitra, Maroko.
   Kenitra, 04 Agustus 2012/15 Ramadhan 1433 H

Selasa, 31 Juli 2012

Puasa, Hadis dan Halitosis


Oleh Alvian Iqbal Zahasfan*

Ibadah puasa adalah ibadah yang unik, baik dalam cara pengamalannya maupun dalam meraih pahalanya. Adapun cara pengamalannya, ibadah puasa merupakan ibadah salbiyah (ibadah negatif). Dalam arti ibadah puasa menuntut seseorang untuk menahan, mencegah, melarang dan menegasikan. Ini yang tidak ditemukan pada ibadah yang lain. 

Senada dengan paragraf di atas, Imam Al-Ghazali membagi ibadah puasa menjadi tiga kelas. Pertama, ibadah puasa ‘kelas ekonomi’. Yakni seorang hamba yang hanya berpuasa menahan haus, lapar dan syahwatnya saja. Kedua, ibadah puasa ‘kelas bisnis’. Yakni seorang hamba yang hanya berpuasa menahan haus, lapar dan syahwatnya ditambah mencegah anggota-anggota tubuh lainnya dari melakukan maksiat (shaum al-jawarih). Seperti maksiat mata, lisan, tangan, kaki dll. Ketiga, ibadah puasa ‘kelas ekskutif’. Yakni, seorang hamba berpuasa secara totalitas, bukan sekedar menahan haus, lapar dan syahwatnya serta mencegah anggota-anggota tubuh dari melakukan maksiat tetapi lebih jauh ia melarang dan menegasikan hatinya dari mengingat selain Allah Ta’ala. Di manakah kelas kita?

Di samping itu, ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak enak. Berbeda dengan ibadah yang lain, seperti shalat, zakat, haji apalagi ibadah yang satu ini, nikah (jima’). Seorang teman—dengan keterbatasan ilmunya—nyeletuk tentang ketidakenakkan ibadah puasa, “Tuhan ini bagaimana! enak-enak tidur kok disuruh makan (sahur). Sedangkan saat perut keroncongan malah tidak boleh makan dan susah tidur.” Celetukan seorang teman tadi justru membenarkan eksistensi pahala besar yang tak terhingga yang dijanjikan oleh Allah melalui lisan Nabi-Nya (Hadis Qudsi), “Puasa itu milikku dan Aku yang membalasnya”. (HR. Al-Bukhari Muslim)
Adapun yang unik dalam meraih pahalanya adalah sebagaimana dituturkan oleh hadis riwayat Al-Bukhari dan Musim di atas bahwa secara spesial Allah akan mengganjar langsung pahala orang yang berpuasa. Jadi orang yang berpuasa bukan hanya meraih dua kebahagiaan tetapi tiga; Pertama, saat buka puasa. Kedua, kala bertemu Tuhannya. Ketiga, ketika diganjar langsung oleh Allah dengan ganjaran yang tidak diketahui seberapa besar ganjaran tersebut dan berbentuk apa.

Hadis Seputar Ramadan
Sepuluh tahun yang lalu (Ramadan 1423 H) KH. Ali Mustafa Ya’qub pernah menulis artikel di koran ini berjudul ‘Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadan’. Kini artikel tersebut telah menjelma sebuah buku dengan judul serupa.

Inti artikel supaya para penceramah di bulan suci Ramadan lebih berhati-hati ketika mencatut sebuah hadis. Karena tidak sedikit hadis seputar Ramadan yang beredar kualitasnya dha’if (lemah) dan sangat dha’if; munkar, matruk (semi palsu) bahkan maudhu’ (palsu).
Diantara hadis yang sangat dhaif dan tidak laik diceramahkan adalah hadis tentang keutamaan bulan Ramadan yang berbunyi, “Bulan Ramadan itu awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan penghujungnya pembebasan dari neraka.” 

Sebab kedhaifan hadis di atas dapat dilihat dari dua segi. Pertama dari segi sanad (transmisi hadis). Kedua dari segi matan (kandungan makna). Dari segi sanad ditemukan dua perawi yang dhaif. Yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah bin al-Shalt. Menurut kritikus hadis Ibnu ‘Adiy (w. 365 H) Sallam bin Sawwar itu munkarul hadis (hadisnya munkar/tidak boleh dijadikan hujjah). Sedangkan Maslamah bin al-Shalt adalah matruk (ditinggalkan/tertuduh sebagai pendusta karena prilaku kesehariannya dusta). Hadis matruk dalam segi kelemahannya berada tepat satu level di bawah hadis maudhu’ (hadis palsu). Oleh karenanya para kritikus hadis menyebut hadis matruk sebagai hadis semi palsu. (Lihat buku Hadis-hadis Palsu Seputar Ramadan karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, hal. 14)

Dari segi matan (kandungan makna) hadis di atas lemah sebab—menurut wakil direktur Dar El Hadith El Hassania, Maroko, Dr. Syekh Khalid Saaqiy—bulan Ramadan awal sampai akhirnya dipenuhi rahmat, maghfirah dan ‘Itqun min an-nar (pembebasan dari neraka). Bukan terkotak-kotak menjadi tiga bagian.
Oleh sebab itu, hadis di atas tidak dapat dijadikan dalil untuk masalah apa pun termasuk fadhail Ramadan (keutamaan bulan Ramadan). Dan tidak layak pula disebut-sebut dalam ceramah atau pengajian Ramadan. Apalagi menurut para kritikus hadis seperti Prof. Dr. Syekh Muhammad Mustafa Azami bahwa menyampaikan hadis dhaif tidak dibenarkan kecuali disertai penjelasan tentang kedhaifannya. (Lihat Manhaj al-Naqd ‘Inda al-Muhaddisin, hal. 84)

Ingat! Rasulullah mengancam orang yang sengaja berdusta atas namanya, “Barangsiapa yang sengaja berdusta (membuat hadis palsu/semi palsu) atas namaku maka bersiap-siaplah menempati kursinya di neraka.” (HR. Al-Bukhari)

Kritik Sosial Halitosis
Dulu sewaktu penulis mondok di pesantren pernah menemukan teks hukum fiqih di ‘barebook/kitab gundul atau kitab kuning’ yang menyatakan makruh bersiwak atau gosok gigi bagi orang puasa setelah lengsernya matahari. 

Sejatinya hukum fiqih di atas ‘terilhami’ oleh hadis sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim, “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah ketimbang wangi misik/kasturi”. Kemudian pertanyaan yang muncul apakah benar demikian maksud dari hadis barusan? Yakni orang yang berpuasa dilarang (makruh) gosok gigi saat berpuasa?

Beberapa orang salah dalam menafsirkan hadis di atas sehingga mereka memelihara halitosis (bau mulut) dan enggan membersihkan gigi dan mulutnya. Padahal dengan menyikat gigi pun halitosis tidak akan hilang, tetapi hanya bisa mengurangi saja.

Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan di sini; Pertama, dari pemahaman hadis, sesungguhnya jika kita cermati, hadis di atas sama sekali tidak melarang orang puasa untuk bersiwak/gosok gigi. Bahkan sebaliknya terdapat beberapa hadis yang menganjurkan untuk bersiwak, seperti yang diriwayatkan oleh Amir bin Rabi’ah bahwa “Saya melihat Rasulullah berkali-kali bersiwak ketika beliau sedang berpuasa.” Dan seperti riwayat dari Ummul Mukminin, Aisyah dari Nabi Muhammad, adapun memakai siwak mensucikan mulut yang mana disenangi oleh Tuhan. (HR Bukhari). Menurut Ibnu Battol, pensyarah (penjelas) Sahih Al-Bukhari dari Cordoba, bau mulut orang puasa itu disebabkan oleh lamanya tidak mengkonsumsi makanan dan minuman. Dan kata-kata dalam hadis ‘lebih wangi di sisi Allah’ menunjukkan bahwa bau mulut orang berpuasa akan wangi nanti di alam akhirat. (lihat Syarh Sahih Al-Bukhari juz. 4, Hal. 12)
Ust. Ahmad Zaki menuturkan ada riwayat bahwa Rasul pernah meluruskan penafsiran yang salah dari salah satu sahabat tentang hadis di atas. Sejatinya bau mulut orang berpuasa akan diganti dengan bau minyak misik di surga jika berasal dari hati yang bersih dan hanya mengeluarkan perkataan yang baik (tidak meso/mengumpat, ngomongin orang, dll) saat berpuasa.

Kedua, dari sudut medis, menurut Dr. Samuel Oentoro, MS. dari Klinik Nutrifit yang diamini oleh Dr. Rosa dari Klinik Prorevital, Jakarta sebenarnya menyikat gigi tidak menghilangkan halitosis (bau mulut) orang puasa. Karena bau mulut orang yang berpuasa bukanlah berasal dari gigi atau mulut tetapi dari perutnya. Kosongnya lambung dari makanan dan menurunnya kadar air liur menimbulkan bau yang tidak sedap. Jadi siwak atau menyikat gigi hanyalah untuk membersihkan mulut dan menghilangkan bau untuk sementara waktu.
Ketiga, setelah membaca alasan dari sudut medis maka dari sudut sosial dan akhlak, kita dituntut untuk sering-sering menyikat gigi dan atau memakai larutan penyegar mulut supaya tidak mengganggu orang lain. Baik saat kita akan shalat berjamaah, berbisnis dengan orang lain dan aktifitas lainnya. Bukankah ibadah sosial lebih utama dari pada ibadah personal dan mengganggu orang adalah dosa? Jangan sampai ibadah kita kepada Allah (puasa) mengesampingkan ibadah kita yang bersifat horizontal. 

Sekali lagi, puasa di siang hari tidak melarang kita untuk menyikat gigi. Dan perlu dicatat bahwa interaksi kita bukan hanya dengan sesama muslim. Mereka akan sangat merasa terganggu dengan kehadiran halitosis orang yang berpuasa. Bukankah Islam sangat menganjurkan kebersihan, mewajibkan kesucian dan amat menyukai wewangian? Wallahu a’lam bis sowab [aiz]

*Penulis lahir di Jember, 25 Juni 1983
·  Wakil Ketua PPI Maroko 2011-2012
·  Rois Syuriah PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) 2011-2013
·  Mahasiswa Pasca Sarjana Dar El Hadith El Hassania, Rabat-Maroko  2010-2013

Indahnya Ramadhan

Oleh: Ali Syahbana*

Sungguh, rasa syukur merupakan hal yang utama yang melulu patut kita layangkan kehadirat-Nya. Bagaimana tidak? Berkat anugrah, rahmat serta inayah-Nya kita masih diberi kesempatan untuk kembali mencicipi indahnya bulan Ramadhan. Suatu bulan yang belum tentu kita temui di beberapa kesempatan berikutnya.

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang istimewa dengan beberapa rentetan keistimewaannya. Juga merupakan bulan yang agung, mulia pun penuh brkah. Pada bulan ini telah diwajibkan bagi umat islam se-antero dunia untuk berpuasa. Pada bulan ini telah dibuka pintu-pintu surga, dalam artian adanya kemudahan bagi manusia untuk meraihnya disebabkan pahala yang diobral secara besar-besaran. Pada bulan ini juga ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Dan yang tak ketinggalan, akan kita jumpai -Insya Allah- suatu malam yang dahsyat, suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan, yaitu “Lailatul Qadar”. Firman Allah swt: “Lailatul qadri khairun min alfi as-syahr, tanazzalul malaaikatu wa ar-ruuhu fiiha bi idzni rabbihi min kulli amr, salaamun hiya hatta mathla’il fajr.” Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS.)

Berkaitan dengan hal tersebut, Imam Ahmad, Nasa’I dan Al Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda:

“Sungguh, telah datang padamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, disaat dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggu setan-setan, dan dimana dijumpai suatu malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tidak berhasil beroleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya.”

Rasulullah saw dalam khutbahnya pada hari terakhir bulan Sya’ban telah memberikan gambaran keindahan bulan yang mulia ini. Sabda beliau:

“Bulan Ramadhan adalah bulan sabar, pahala sabar adalah surga. Bulan Ramadhan adalah bulan solidaritas (tolong-menolong), dan bulan dimana rizki orang mukmin bertambah. Barangsiapa memberi buka puasa pada bulan itu kepada yang berpuasa, maka baginya maghfirah (ampunan) bagi dosa-dosanya dan bebas dirinya dari api neraka. Ia mendapat pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa itu tanpa sedikitpun mengurangi pahala orang yang berpuasa. Para sahabat bertanya “Tidak mungkin kami semua dapat memberi makanan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa.” Rasulullah menjawab: “Allah SWT akan memberi pahala (seperti itu) kepada siapa saja yang memberi makanan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa (meskipun) dengan sebutir kurma atau seteguk air.”

Bulan Ramadhan adalah bulan yang awalnya rahmat, pertengahannya maghfirah dan akhirnya pembebasan dari api neraka. Dan barang siapa meringankan (beban) pembantu atau pegawainya di bulan tersebut maka Allah akan mengampuni dosanya dan Allah bebaskan dia dari api neraka. Dan perbanyaklah pada bulan Ramadhan ini empat perkara, (yakni) dua perkara untuk menyenangkan Tuhanmu, ialah membaca syahadat (asyhadu an laa ilaaha illallah) dan membaca istighfar (astaghfirullah). Sedang dua perkara yang justru tidak boleh tidak dari padanya, ialah memohon surga dan berlindung pada Allah dari api neraka.

Barangsiapa memberi minuman bagi orang yang berbuka berpuasa, maka Allah akan memberinya minuman dari telagaku dan ia tidak akan haus lagi setelah itu selama-lamanya.” (HR. Khuzaimah, Al Baihaqi dan Ibnu Hibban dari salman Al farisi).

Di lain kesempatan Rasulullah saw juga mensosialisasikan hal menarik lainnya dari bulan Ramadhan. Beliau menuturkan tentang bagaimana spesialnya amalan berpuasa. Suatu amalan yang berbeda dengan amalan Bani Adam pada umumnya. Dimana amalan puasa hasil akhirnya dikembalikan kepada Tuhannya, bukan untuk manusia itu sendiri sebagaimana amalan-amalan selain berpuasa. Disamping itu bahwa bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih harum disisi Allah swt daripada aroma minyak misik pada hari kiamat.

Dari Abu Hurairah ra, rasulullah saw bersabda: “Allah swt berfirman (setiap amalan anak Adam untuknya kecuali puasa adalah untuk-Ku dan aku akan mengganjarnya). Puasa itu adalah perisai, maka bila seseorang diantaramu berpuasa jangan berkata kotor, bersuara kasar dan berbuat jahil. Apabila ada yang mengumpatnya atau mengajak berkelahi maka hendaklah ia katakan, “aku sedang berpuasa,” sebanyak dua kali. Demi jiwa yang Muhammmad di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah swt daripada aroma minyak misik pada hari kiamat. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan, ketika berbuka puasa gembira dengan bukanya, dan ketika bertemu Rabbnya gembira dengan (pahala) puasanya.” (HR. Ahmad, Muslim dan Nasa’i).

Selain itu, salah satu hal terindah dari bulan Ramadhan ialah tujuan dari diwajibkannya umat islam berpuasa menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari yang tidak lain “la’allakum tattaquun” (baca; QS. 2:183), terbentuknya pribadi-pribadi yang bertakwa, pribadi-pribadi yang taat akan semua bentuk perintahnya dan bersemangat dalam meninggalkan segala jenis larangannya dalam keadaan apapun. Baik pada saat berada pada posisi seorang diri maupun saat berkumpul dengan sesama makhluk Ilahi. Baik secara rahasia atau sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan. Bukan sebaliknya, yaitu saat berkumpul bersama kita tunjukkan seolah-olah kita makhluk yang bertakwa, akan tetapi saat sendirian tindakan kita jauh dari semestinya. Saat dalam posisi terlihat manusia (terang-terangan) kita khusyu’ dan penuh semangat beribadah, bersikap baik dan banyak menonjolkan perilaku terpuji. Namun ketika dalam posisi sirri (sembunyi-sembunyi) jangankan khusyu’, untuk beribadah (bertakwa) saja malasnya bukan main, hati kita diselimuti rasa kedengkian yang memalukan, keangkuhan yang tinggi, penuh rasa ta’ajjub (membanggakan diri sendiri) dan sifat-sifat buruk lainnya. Na’udzubillahi min dzaalik.

Sedangkan konsekuensi atau akibat dari ketakwaan itu sendiri ialah sebuah kemuliaan disisi Allah swt. Kemuliaan yang nilainya tak terhingga. Kemuliaan yang didamba-dambakan umat manusia. Sehingga dengan capaian kemuliaan itu manusia akan lebih mudah untuk menikmati indahnya kehidupan di surga kelak yang merupakan terminal terakhir kehidupan terbaik manusia. Firman Allah swt: “Inna akramakum ‘indaAllahi atqaakum.” Sesungguhnya yang termulia disisi Allah ialah ketakwaanmu, (QS. 49:13). Begitupun dengan Firman-Nya: “ wasaari’uu ila maghfiratin min rabbikum wajannatin ‘arduhassamaawaatu wal ardu, u’iddat lil muttaqiin.” Dan bersegerahlah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (QS. 3:133 ).

Semoga kesempatan berpuasa yang kita dapatkan ini bisa menjadi motivator bagi kita untuk lebih bergairah lagi dalam merengkuh hal-hal terindah yang terdapat dalam bulan yang penuh barokah ini. Dan semoga Allah juga selalu mencurahkan rahmat kasih sayangnya kepada kita dalam menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang tunduk serta patuh terdahap perintah dan larangan-Nya. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan.  
 
Wallahua’lambishowab.

Rabu, 25 Juli 2012

Meraih Cinta di Bulan Ramadhan

Bermula dari asal mula terciptanya nenek moyang manusia yaitu Adam dan Hawa tiada lain karena cintaNya agar mereka berdua bisa menikmati indahnya kehidupan di surga, namun karena Adam dan Hawa telah melakukan perbuatan yang tidak di cintai oleh Allah SWT seketika itu cintaNya berubah menjadi hukuman. Adapaun diturunkannya mereka berdua ke dunia disebabkan karena kesalahan mereka sendiri tidak mentaati perintahNya. 

Begitu juga ketika kita berbicara tentang cinta di bulan Ramadhan ini, tentunya yang terpikiran oleh kita adalah bagaimana meraih cinta Allah di bulan yang penuh berkah ini. Karena di bulan Ramadhan ini, Allah Ta’ala benar-benar obral pahala. Dia memberikan cintaNya kepada kita semua, dengan beragam kesempatan untuk mengumpulkan pahala di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini. Itu sebabnya, sangat aneh sekali jika kita tidak berusaha semaksimal mungkin untuk meraih cintaNya itu.

Namun sangat di sayangkan karena dalam prakteknya tidak sedikit orang yang berusaha dan berlomba untuk meraih cinta di bulan Ramadhan ini tidak tahu caranya untuk meraih cinta di bulan Ramadhan ini, bahkan ada sebagian yang tidak mau tahu caranya untuk meraih cinta tersebut. Ada yang puasa biar berat badannya menurun. Rela menahan lapar dan haus tapi lisannya sering menyakiti orang lain, lidahnya di gunakan untuk ngegosip alias membicarakan kejelekan orang lain dan bahkan ada yang rela tidak melakaukan pekerjaan berat hanya untuk menambah jam tidurnya. Itu sebabnya, Rasulullah saw. bersabda: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga” (HR Ahmad).

Nah, jika di bulan Ramadhan ini kita ingin meraih cinta dari Allah SWT, maka kita harus tahu sesutau yang menjadikan Allah cinta kepada kita. Di antaranya yaitu melakukan semua yang di perintahkan oleh Allah SWT kepada kita seperti sholat, zakat, puasa dan memperbanyak amalan-amalan sunah lainnya seperti sholat sunah rowatib serta sholat sunnah lainnya, bersodakoh, berdzikir, membantu orang lain dan menjahui segala larangan-laranganNya. 

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Allah akan membukakan pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka. Itu artinya, Allah memberi kesempatan kepada kita untuk berbuat lebih banyak dalam mengumpulkan pahala. Sabda Rasulullah saw.: Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu Neraka serta syaitan-syaitan dibelenggu (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah hadis qudsiy Rasulullah SAW. bersabda: Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, bau mulut orang berpuasa benar-benar lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi. Dia meninggalkan makanannya, minumannya, syahwatnya semata-mata karena Aku. Puasa itu adalah bagiKu. Dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya. Dan kebajikan (pada bulan Ramadhan) diberi pahala dengan sepuluh kali lipat kebajikan yang semisalnya. (HR Bukhari dari Abu Hurayrah).

Oleh karena itu jika kita ingin mendapatkan pahala di bulan Ramadhan karena cinta kita kepada Allah SWT. tentunya kita harus meraihnya dengan aturan yang sudah dijelaskan melalui tuntunan Allah dan RasulNya. 

By: Kusnadi El-Ghezwa.

PCINU MAROKO

PCINU MAROKO

Followers